Gowes #1: Komuter


Sepeda sudah seperti bagian dari hidup saya. Dari kecil memang suka sepedaan, belum lagi teman di kampung juga suka sepedaan. Kesana-kemari ngebut seperti tidak kenal lelah, dari pagi hingga sore. Sampai akhirnya saya menemukan satu jenis sepeda yang saya impikan, MTB, Sebuah impian yang sangat jauh.

Sepedaan sempat terputus saat sekolah, teman sudah berpisah karena harus belajar, dan kesempatan bermain semakin berkurang. Namun saat SMP dengan jarak sekolah yang lumayan jauh untuk seukuran bocah, maka sepeda adalah menjadi teman terbaik untuk memulainya kembali. Banyak juga siswa yang naik sepeda waktu itu, walaupun sudah ada beberapa anak yang naik motor, tapi satu halangannya yaitu polisi, karena siswa dibawah umur dilarang. Walaupun kelihatannya mereka keren, tapi tidak pernah terpikirkan oleh saya entah kenapa. Tapi Di sinilah petualangan dimulai, karena teman sekolah rumahnya jauh-jauh jadi ada saja tugas sekolah yang harus dikerjakan dengan mereka.

Hanya sepeda kenangan waktu SMP, dan SMA pun masih pakai sepeda, dan jarak semakin jauh, dan teman sekolah juga semakin jauh. Petualangan baru pun dimulai. Tapi tidak seasik dulu, karena beberapa sudah mulai mengendarai sepeda motor. Saya masih menahan diri karena belum cukup umur. Meskipun demikian saya juga coba belajar mengendarai motor, dan itu tidak begitu sulit karena pengalaman bersepeda saya sudah lama. Dan begitulah saya terputus dengan sepeda.

Saatnya kuliah saya lebih sering menggunakan motor. Sempat kepikiran rasanya ke kampus yang jauh di kota dengan mengendarai sepeda, dan saya nekat beli sepeda yang dulu saya impikan, MTB. Agak konyol rasanya karena jalan di aspal. Beberapa kali saya coba sampai di kampus telat karena jalan raya yang tidak punya ampun untuk sepeda, sehingga perlu lewat jalan kampung yang sepi lalu lintas. Di sinilah asiknya, blusukan. MTB menjadi pilihan tepat.

Mengecewakan karena pengguna jalan mayoritas kendaraan bermotor, dan pesepeda seperti di asingkan. Sempat beberapa kali mereka hampir nyerempet, atau tidak memberikan kesempatan untuk menyeberang. Itu membuat saya putar jauh untuk masuk ke jalan agar tidak perlu nyebrang.

Sampai pada akhirnya respon tubuh saya berbeda. Saya seperti kesulitan bernapas, dan kehilangan tenaga secara instant. Menurut beberapa orang yang saya tanyai di forum mereka berkata belum terbiasa setelah lama tidak sepedaan, saya mencoba untuk percaya. Namun sepertinya itu serius. Semakin lama memburuk dan terpikirkan inikah akhir dari yang selama ini diperjuangkan?

Comments